Coba bayangin, ada studio game asli Indonesia yang sudah 17 tahun berusaha memajukan industri game lokal, bahkan karyanya dikenal sampai luar negeri dan banyak memenangkan penghargaan internasional, tetapi sekarang ownernya malah mikir buat angkat kaki dari Indonesia. Itulah yang dialami sama Toge Productions beberapa waktu silam, studio di balik game Coffee Talk, A Space for the Unbound dan game lainnya. Pendirinya, Kris Antoni, bilang kalo dia makin yakin mau mindahin perusahaannya ke negara lain setelah merasa “ditodong” soal pajak dengan aturan yang menurutnya dibuat-buat. Aku nggak mau buru-buru nyimpulin siapa yang salah, tapi ada hal yang menurutku jauh lebih penting dari itu. Kalau studio sebesar ini aja mikir buat kabur, berarti kita lagi kehilangan sesuatu yang harusnya bisa jadi aset besar buat negara.
Kenapa aku bilang aset ? Karena satu studio game yang sehat dan aktif itu efeknya panjang. Mereka membuka lapangan kerja buat programmer, artis, penulis, dan masih banyak lagi, bisa lah nambahin kuota 19 juta lapangan pekerjaan. Studio yang sukses juga bisa narik perhatian investor dan publisher asing, jadi uang dari luar bisa masuk ke dalam perputaran uang negara kita. Toge Productions sendiri juga aktif mendanai studio indie lain di Asia Tenggara lewat program pendanaannya, jadi bayangin kalau dukungan kayak gitu berkembang dari sini. Kalau industrinya tumbuh, pemasukan negara dari pajak juga ikut naik, ya jadi sebenarnya semua pihak diuntungkan.
Sekarang biar adil, pihak pajak dan sebagian pelaku industri punya pandangan lain. CEO Agate, Shieny Aprilia, bilang aturan soal amortisasi biaya pengembangan itu bukan aturan yang dibuat buat, tapi sesuai PSAK 19 yang mengikuti standar internasional IAS 38. Ditjen Pajak juga bilang pemeriksaannya profesional dan sesuai undang-undang, plus mereka nggak boleh ngomentarin kasus wajib pajak tertentu. Tapi masalahnya, studio dengan margin tipis bisa langsung goyah kalau tiba-tiba kena tagihan besar akibat beda tafsir aturan. Jadi yang kurang bukan cuma aturannya, tapi juga kejelasan dan pendampingan buat pelaku industri.
Jadi menurutku, kasus ini harusnya dibaca sebagai peringatan, bukan cuma bahan ribut di media sosial. Pemerintah bisa mulai dengan bikin panduan pajak khusus buat developer game, biar semua pihak punya pegangan yang sama. Di sisi lain, developer juga perlu lebih melek soal akuntansi dan pajak supaya nggak kaget di kemudian hari. Kalau komunikasi lancar dan aturannya jelas, studio-studio kita nggak akan punya alasan buat cari rumah baru di negara lain. Sayang banget kan kalau kita kehilangan salah satu kunci potensial penggerak ekonomi di negara kita sendiri ?