Aplikasi pinjaman online alias pinjol sekarang makin merajalela di masyarakat,tak terkecuali di kalangan mahasiswa. Cukup upload foto KTP dan selfie sebentar, dana segar bisa langsung cair ke rekening tanpa perlu ribet mengurus berkas ini-itu. Kemudahan inilah yang membuat banyak masyarakat bahkan tak banyak mahasiswa yang gampang tergiur, apalagi kalau dompet makin tipis di akhir bulan. Sayangnya, kepraktisan ini sering tidak disertakan dengan perhitungan keuangan yang matang. Bukannya menyelesaikan masalah, pinjol justru sering menjadi jebakan utang yang siap menggulung masa depan mereka.
Sepertinya, alasan mahasiswa menggunakan pinjol sebenarnya bermacam-macam dan tidak cuma soal urusan mendesak. Ada yang memang kepepet butuh uang untuk membayar kontrakan, membeli buku kuliah, atau sekadar sambung hidup gara-gara kiriman orang tua telat. Namun, tidak sedikit juga yang nekat meminjam cuma demi menuruti gaya hidup dan gengsi pergaulan. Keinginan untuk selalu ikut nongkrong di coffe shop viral, membeli baju branded impor, sampai membeli tiket konser idol kesayangan sering membuat mereka mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya. Rasa gengsi yang ketinggian akhirnya mengalahkan logika soal risiko bunga tinggi yang menunggu di depan mata.
Masalah sebenarnya baru terasa pas tanggal jatuh tempo tiba tapi uang setoran belum tersedia. Bunga harian yang jalan terus ditambah denda keterlambatan bikin nilai utang mendadak membengkak tidak karuan. Tekanan mental pun mulai berdatangan, mulai dari overthinking tiap hari, rasa malu, sampai teror penagih utang yang mulai menghubungi teman-teman di kontak HP. Ujung-ujungnya, konsentrasi kuliah jadi berantakan, nilai drop, bahkan tidak sedikit yang terpaksa mengambil jalan pintas atau melarikan diri dari kampus gara-gara stres berat. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk lebih bijak mengelola keuangan dan tidak tergiur oleh kenyamanan semu pinjaman online.